Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 26 Februari 2014

Sehat itu Murah, Sakit itu Mahal !!

13933923311935863613
brighterlife.co.id
Betapa murahnya biaya hidup sehat. Hanya saja yang sulit itu adalah kemalasan agar senantiasa setia untuk mengatur pola hidup yang memenuhi standar kesehatan. Sakit itu memang mahal, tetapi tak sedikit yang lebih memilih membayar mahal untuk sakit. Tidak percaya?
Hidup sehat yang tanpa biaya misalnya adalah jalan kaki rutin setiap pagi. Dalam buku Geoff Nicholson, Lost Art of Walking, bahkan jalan kaki bukan memiliki manfaat secara kesehatan fisik, tetapi juga secara psikologis, dan hubungan sosial.
Secara kesehatan fisik, dapat mengatur berat badan, tekanan darah sehingga kurangi resiko terkena stroke, kanker payudara, diabetes dan masih banyak lagi. Sedangkan secara psikologis, jalan kaki dapat menjernihkan pikiran dan merdeka dari stress. Pasalnya, jalan kaki mampu menimbul relaksasi diri dan memunculkan kegembiraan (mood).
Secara sosial, jalan-jalan kaki dapat menjadikan seseorang berinteraksi dengan orang lain. Lebih-lebih interaksi sosial dapat membuang jenuh dan kesepian yang dapat menyebabkan seseorang stress dan pikiran mudah bosan. Hal lain adalah dapat menikmati kindahan alam sekitar yang tentu saja dapat menyegarkan pikiran.
Cara lain untuk memperkokoh kesehatan adalah dengan mengosumsi buah-buahan. Jelas, harga buah-buahan tidaklah mahal. Negeri kita sejatinya adalah surganya buah-buahan. Segala jenis pohon buah dapat mudah tumbuh. Misalnya saja adalah buah pepaya.
Pepaya memilih banyak sekali manfaat. Dilansir dari doktersehat.com, mengosumsi pepaya dapat Memperkuat tulang dan gigi. Pada sisi daun, pepaya memiliki kandungan alami yang dapat memperkuat tulang dan gigi. Daun pepaya juga dapat mengatasi tekanan darah tinggi. Dijelaskan situs dokter ini, untuk menurunkan tekanan darah tinggi, dengan cara merebus lima lembar daun pepaya dengan setengah liter air.
Minum air rebusan tersebut dengan menambahkan gula tau madu sebagai pemanis. Penyakit lain yang dapat diluluhkan dengan pepaya adalah demam berdarah dan kanker. Dilansir dari resepminumankesehatan.blogspot.com, biji pepaya memiliki manfaat menjaga kesehatan ginjal.
Berikutnya adalah buah pisang. Dijelaskan di doktercantik.com, pisang dapat melindungi tubuh dari penyakit radang perut. Manfaat lainnya adalah untuk jantung dan saraf. Kandung kalium yang tinggi dari pisang, amat penting untuk memperbaiki kontraksi otot dan memiliki peranan besar dalam memompa jantung normal secara teratur dari pencernaan dan gerakan otot.
Buah lainnya adalah bual tomat. Dilansir dari anneahira.com, mengutip penelitian Dr. Jhon Cook Bennet, tomat berfungsi menyembuhkan penyakit gangguan pencernaan, diare, penyakit empedu, memulihkan fungsi liver, dan mencegah kolera.
1393392496206014508
carapedia.com
Penyakit Ganas Kian Rambah Usia Muda!
Mengutip Bali Post, Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu RS Sanglah Prof. Dr. dr. I Wayan Wita, Sp.JP.(K), menjelaskan fakta memprihatinkan. Jika umumnya penyakit gagal jantung diderita usia di atas 40 tahun. Namun kemajuan teknologi telah membuat masyarakat kurang bergerak sekaligus pola makan dan gaya hidup tidak sehat, menyebabkan penyakit gagal jantung mulai merambah ke usia lebih muda.
Pola hidup yang buruk juga menyebabkan maraknya penyakit berat hinggap pada banyak kalangan. Dilansir health.kompas.com, penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan stroke, juga banyak diderita oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Magelang. Hal ini diperkirakan terjadi karena kesalahan pola makan akibat kesulitan ekonomi dan krisis keuangan.
Dilansir situs sama, mengutip Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang Bambang Sugiyanto mengatakan kesalahan pola makan akibat kesulitan ekonomi diantaranya terlihat dari perilaku masyarakat yang sekarang kerap membeli minyak goreng bekas pakai atau jelantah. “Mereka semata-mata memilih membeli minyak jelantah karena harganya paling murah, dan terjangkau,” ujarnya.
Selain itu, menurut Bambang, kesulitan keuangan juga kerap kali menimbulkan stres, yang pada akhirnya juga mempercepat munculnya penyakit-penyakit tidak menular seperti hipertensi dan stroke tersebut.
Gaya hidup modern juga memiliki dampak serius terhadap kondisi kesehatan. Dilansir tempo.co, memaparkan dampak buruk makanan cepat saji. Disebutkan bahwa makanan cepat saji memiliki banyak efek negatif. Misalnya efek buruk memperburuk kesehatan mulut. Pasalnya, makanan cepat saji banyak kandungan gula, terutama dari minuman bersoda.
Selain gula, juga karena tingginya konsumsi lemak dan garam. Hal ini dituturkan oleh Dr Ahmed Rashid dari Department of Public Health and Primary Care, University of Cambridge, “Makanan cepat saji sering mengandung banyak gula. Ini berbahaya buat kesehatan mulut dan meningkatkan bahaya buat jantung,” tegasnya.
13933922402004448627
mahkotasehat.blogspot.com
Biaya Sehat Murah Sekali Bukan?
Ya, murah sekali. Sayang sekali tak sedikit yang malas untuk menerapkan resep-resepnya. Bayangkan seberapa besarnya manfaat jalan kaki yang tanpa mengeluarkan biaya?
Bahkan, produk-produk alamiah seperti buah-buahan, dapat kita temukan tak jauh-jauh di sekitar kita. Tak perlu biaya banyak membelinya. Namun demikian, apakah kita mau dengan ringan hati untuk mengomsumsinya?
Banyak hal yang kita beli dengan harga mahal, tetap kita beli dengan senang hati. Padahal jika sudah jatuh sakit, biaya pengobatannya bisa menghabiskan 7 hektar sawah!
Semoga kita semua dimudahkan untuk selalu terjada dalam pola hidup yang sehat!

13933929271536264612
celebesonline.com

Sayangkah kita pada Anak?

Jika Sayang Anak Kita, Tanamkan Rasa Malu Sedini Mungkin…


“Sesungguhnya dari apa yang diperoleh manusia dari kalam kenabian yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sekehendakmu,” (HR. Bukhari)
Memiliki seorang anak atau mungkin banyak anak merupakan sebuah amanah yang harus kita pertanggung jawabkan kelak, semua orang tua menginginkan anaknya sukses dalam segala hal, tidak kekurangan materi alias hidup berkecukupan, menjadi pria/wanita yang shaleh / shalehah dan masih banyak lagi nilai atau keinginan positif yang kita harapkan untuk anak kita kelak.
Menanamkan rasa malu merupakan salah satu pondasi dasar dalam pandangan saya, dalam mendidik anak untuk dapat menjalankan norma kesusilaan dan ajaran agama. Menanamkan rasa malu disini bukan berarti menjadikan anak kita sebagai pribadi pemalu atau tidak berani tampil, tetapi menanamkan kepada anak kita untuk tidak berbuat seenaknya sendiri serta melanggar norma-norma tadi.
Dengan menanamkan rasa malu, akan membuat anak kita merasa dirinya diawasi oleh Allah SWT Yang Maha Kuasa sehingga timbul semangat dalam dirinya untuk tidak berlaku seenaknya saja. Dengan berbagai alasan terkadang sebagian orang tua tidak mengajarkan rasa malu, seperti masih kecil sehingga memboleh anaknya buang air kecil dimuka umum, atau telanjang keluar selepas mandi padahal ada tamu yang sedang berkunjung.
Hal diatas merupakan contoh kecil dalam menanamkan rasa malu semenjak kecil, putri kecilku pun kini tanpa harus disuruh selepas mandi dia akan menggunakan handuknya dan memakain baju didalam kamar walau memang masih dibantu ibunya.
“Aku kan sudah besar Pah, aku malu jadi aku di kamar saja yach pakai bajunya,” ujarnya
“Pah, tutup dong pintunya aku kan mau pakai baju,” katanya saat hendak memakai baju
Itulah beberapa percakapan yang masih aku simpan rapi dalam memori , termasuk juga seringnya bersama isteriku mengingatkan dan memberikan pengertian terkait perkataan yang dia ucapkan yang sebenarnya belum layak untuk anak seusianya yang diperoleh dari layar TV.
Ini merupakan satu step pembelajaran bagi kami berdua, dalam mendidik putriku utamanya dalam menanamkan rasa malu kepadanya sedari kecil. Sehingga harapan kelak, putriku bisa menjadi pribadi yang sopan, memiliki rasa malu dalam hatinya karena merasa dirinya dilihat oleh Allah SWT Yang Maha Kuasa.

Dibalik Musibah ada Berkah. Manfaat Abu Vulkanik

Nih... Keistimewaan Batu Bata Berbahan Abu Vulkanis!


Kompas.com/ Wijaya Kusuma
Batu bata abu vulkanik produksi Merapicon, Gondang, Pusung, Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

Batu bata ringan berbahan abu vulkanis memiliki keistimewaan. Batu bata ini semakin hari akan semakin keras dan kuat.

Ismail Hermawan, salah satu pemilik usaha batu bata ringan berbahan abu vulkanis, mengatakan bahwa batu bata tersebut lebih istimewa dibandingkan batako dan batu bata merah. Selain kuat, bangunan yang menggunakan batu bata ringan abu vulkanis juga tidak menyalurkan panas sinar matahari.

"Dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 20 cm, dan ketebalan 10 cm, pembangunan akan lebih cepat sekaligus irit bahan. Pekerja bangunan pun tidak kesulitan karena bahannya ringan," kata Ismail, Selasa (25/2/2014).

Selain itu, kondisi dalam rumah atau gedung yang konstruksinya menggunakan batu bata ringan berbahan abu vulkanis ini akan terasa lebih sejuk.

"Memang menyerap panas matahari. Hanya, material ini tidak menyalurkan panas itu ke dalam ruangan. Batu bata ringan vulkanis sifatnya meredam panas," ujarnya.

Hermawan menjelaskan, batu bata ringan tersebut akan mengambang jika dimasukkan ke air. Namun sekalipun ringan, kekuatan dan daya tahannya dapat diandalkan. Menurut dia, semakin lama usianya, batu bata ringan tersebut akan semakin keras dan kuat. Seperti abu vulkanis erupsi gunung api, jika semakin sering terkena air hujan dan panas matahari, maka zat tersebut akan semakin lengket dan keras.

"Saat gempa kemarin, tidak ada konsumen yang kompalin rumahnya retak. Karena ringan, batu bata ini tidak membahayakan jika serpihannya mengenai manusia," katanya
.

Mau tau anak jepang belajar? Yuk intip..




Quote:
Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.
Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.

Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.

Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi. Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji. Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.

Mahasiswa Tidak Canggung Mengajar, Manfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Kuliah Micro Teaching: Mahasiswa Tidak Canggung Mengajar, Manfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar
Mahasiswa sedang belajar di luar kelas
“Saat mahasiswa praktik mengajar, mereka sebetulnya tidak semata belajar transfer knowledge, tapi mereka melakukan transfer pengalaman pembelajaran dengan meniru model pembelajaran dosennya. Karena itu, jika kita ingin mereka menerapkan pembelajaran aktif, kita dosen penting membiasakan mereka dengan perkuliahan aktif,” kata Nursalam, dosen Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar. Itu alasan Fasilitator Pembelajaran Kontekstual USAID PRIORITAS itu selalu memberikan perkuliahan aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan kepada mahasiswa. Seperti praktik di bawah saat mendampingi mahasiswanya semester VI Prodi Matematika.
Supaya kuliah micro teaching menarik bagi mahasiswa, Nursalam memfasilitasi mereka menerapkan pembelajaran aktif dan kontekstual di dalam dan luar kelas. Dengan team teaching Fitriani dan Anita Purnama Putri mahasiswa yang berperan guru MTs menyajikan materi Himpunan untuk siswa kelas VII semester ganjil. Mereka nampak rileks dan tidak canggung lagi mengajar di depan kelas. Bahkan, persiapan perangkat pembelajarannya lengkap. RPP dan LKS mereka rancang untuk pembelajaran aktif dan kontekstual.
Selama 2x45 menit Fitriani dan Anita mengelola  pembelajarannya dengan model pembelajaran kooperatif di dalam dan luar kelas. Tahapan pembelajarannya meliputi:  apersepsi, penjelasan tujuan pembelajaran, pembagian kelompok, pengerjaan LKS (observasi, kerja, dan diskusi kelompok di dalam dan luar kelas), presentasi hasil kerja kelompok, tanya jawab, penguatan hasil pembelajaran, dan refleksi proses dan konten pembelajaran.
Agar semua siswanya  terlibat  aktif dalam kegiatan pembelajaran, Fitri dan Anita menyajikan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar kelas sebagai sumber belajar. Untuk itu, mereka membagi siswanya ke dalam 6 kelompok heretogen. Masing-masing kelompok diberikan satu LKS yang berisi tugas (1) mengamati dan mencatat kumpulan-kumpulan benda yang ada di ruang kelas, di taman depan kelas, di samping kelas, di belakang kelas, dan di samping gedung   serta di lapangan yang ada di sekitar kelas. Beragam benda-benda yang diamati sebagai sumber belajar seperti: kumpulan motor, pepohonan, batu-batuan, rerumputan, sampah plastik, dan dedaunan kering di halaman. Selama proses pengamatan berlangsung, Fitri dan Anita mengarahkan siswanya untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang kumpulan benda yang ditemukan, khususnya kesamaan dari benda-benda itu; (2) memberikan penamaan kumpulan-kumpulan benda yang dikumpulkan itu lalu memberikan nama himpunan untuk  kumpulan-kmpulan tersebut. Dari kegiatan pembelajaran itu, siswa mampu mengidentifikasi jenis-jenis benda yang dapat dikelompokkan ke dalam satu himpunan. Dan akhirnya dapat membuat simpulan sendiri tentang definisi himpunan.
Proses pembelajaran kemudian dilanjutkan di dalam kelas dengan kegiatan presentasi hasil belajar kelompok, diskusi, dan tanya jawab. Fitri dan Anita saling bergantian menjadi fasilitator diskusi. Di bagian akhir pembelajaran, Fitri menguatkan pemahaman siswanya dengan dua cara memberikan Kuis Tebak-Tebakan Himpunan dan Demonstrasi Keabsahan Himpunan. Cara yang kedua itu, dirinya mengundang tiga orang teman perempuannya tampil di depan lalu bertanya “Apakah benar kalau mereka ini berada dalam himpunan perempuan cantik?” jawaban dan argumentasi beragam pun muncul. Fitri lalu menegaskan “Tidak benar kalau dikatakan himpunan perempuan cantik. Karena cantik tidak memiliki ciri dan persamaan yang mutlak,”ujarnya.
Di akhir pembelajaran, Fitri dan Anita melakukan refleksi pembelajaran. Mereka mengundang tanggapan teman-temannya tentang proses dan hasil pembelajaran yang dicapai. Fitri, Anita dan teman-temanya nampak begitu menikmati perkuliahan aktif itu. “Saya sangat suka dengan perkuliahan seperti ini. Sebelum praktik micro teaching, dosen menjelaskan tentang pembelajaran inovatif beserta model-modelnya. Kami deberikan kebebasan untuk merancang dan mengembangkannya. Akhirnya kami tidak merasa kaku lagi untuk melakukan PPL,”papar Anita

Fisika itu MUDAH

Menerapkan Sifat Cahaya via Model
Firman Apriandi, SDN Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat
Sekelompok siswa tengah melakukan percobaan di Stasiun 3 (Pelangi) guna membuktikan bahwa cahaya putih terdiri atas berbagai warna.
    Kali ini pembelajaran di Kelas V tiba pada SK nomor 6 (Menerapkan
    sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model) dengan KD nomor 6.1 (Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya).
    Kompetensi ini meliputi indikator:
    1. Mempraktikkan sifat cahaya yang mengenai berbagai benda (bening, berwarna dan gelap);
    2. Menunjukkan contoh peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari melalui percobaan;
    3. Menunjukkan bukti bahwa cahaya putih terdiri atas berbagai warna.
    Tujuan pembelajaran meliputi:
    1. Siswa mampu mengidentifkasi sifat cahaya yang mengenai berbagai benda (bening, berwarna dan gelap);
    2. Siswa dapat menunjukkan contoh peristiwa pembiasan cahaya dalam kehidupan sehari-hari;
    3. Siswa dapat menunjukkan bukti bahwa cahaya putih terdiri dari berbagai warna.
    Karakter bangsa yang dapat dibangun melalui proses belajar ini meliputi disiplin (discipline), tanggung jawab (responsibility), ketelitian (carefulness), ketekunan (diligence) dan kejujuran.
    Metode pembelajaran yang digunakan adalah diskusi, praktikum, tanya jawab, dan tugas berbasis proyek. Model pembelajaran adalah ‘Stasiun Pembelajaran.’
    Kegiatan pembelajaran diawali dengan apersepsi dan motivasi berupa (1) mengaitkan materi sebelumnya (2) menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran melalui powerpoint, dan (3) memberi motivasi kepada siswa tentang pentingnya mempelajari sifat-sifat cahaya.
    Kegiatan inti meliputi:
     Eksplorasi
    • Siswa dibagi menjadi 6 kelompok;
    • Meja kelas dibuat 3 stasiun, yaitu: Stasiun Tembus Cahaya, Stasiun Pembiasan, dan Stasiun Pelangi;
    • Karena jumlah siswa banyak, maka 3 stasiun ini dibuat 2 bagian;
    • Setiap stasiun mempunyai satu bahan ajar, lembar kerja dan kartu peran
    • Siswa menempati setiap stasiun selama 10 menit, dan selanjutnya berputar;
    • Siswa diberi Lembar Kerja dan kemudian mereka mengerjakannya.
    Elaborasi
    • Saya mendorong siswa untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tulisan;
    • Siswa berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
    • Siswa menyiapkan bahan penyajian hasil kerjanya.
    Konfirmasi
    • Siswa mempresentasikan hasil kegiatannya;
    • Siswa memberi tanggapan terhadap presentasi yang disampaikan;
    • Saya melakukan penilaian secara berkelompok dengan menggunakan program Microsoft Mouse Mischief; dan Rubrik.
    Penutup
    • Saya dan siswa membuat simpulan pelajaran sesuai dengan proses pembelajaran yang telah berlangsung;
    • Kami merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedial dan pengayaan sesuai dengan hasil belajar siswa;
    • Siswa mencatat pekerjaan rumah.***

Kreatifitas Yang Menghasilkan

Bank Sampah Bangun Karakter Siswa SMPN 1 Enrekang
Siswa SMPN 1 Enrekang sedang mengumpulkan sampah dari kelasnya masing-masing di penampungan akhir di sekolah
Tidak kurang dari 15 kg sampah unorganik yang dikumpulkan siswa dalam setiap minggu. Sampah itu sudah pasti akan mencemari lingkungan sekolah jika tidak dikelola dengan baik. Itu baru sampah unorganik. Sampah organik pun tak kala banyaknya, khususnya sisa-sisa makanan yang harus dibuang oleh kantin sekolah setiap hari. Semua limbah itu  dapat dijadikan media dan sumber belajar siswa. Demikian diutarakan Dra. H. Darmiati Siampa, M.Pd, Kasek SMPN 1 Enrekang.  Bahkan, ia lebih kritis melihat kalau isu sampah dan minimnya kepedulian siswa terhadap sanitasi lingkungan merupakan problema tersendiri di kalangan siswa. “Oleh karena itu, saya berharap guru-guru dapat lebih inovatif untuk menjadikan sampah dan sanitasi lingkungan sebagai bahan pembelajaran kontekstual,”ujarnya.
Sebagai solusi untuk masalah tersebut, Darmiati bersama timnya mengembangkan program yang disebut Bank Sampah. Inisiatif yang diluncurkan di awal tahun 2012 itu bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian siswanya terhadap sampah dan sanitasi lingkungan. Ketua Bank Sampah, Sri Astuti, S.Pd, mengelola program itu secara cermat dan partisipatif dengan melibatkan siswa, OSIS, dan masyarakat. Langkah-langkah yang dilakukan dimulai dengan membentuk tim pengelola sampah di setiap kelas, terdiri dari koordinator, sekretaris, dan bendahara. Tugas pokok tim itu adalah menyadarkan teman-temannya untuk bekerja bersama-sama (1) memilah dan membuang sampah ke kaleng warna Hijau untuk sampah organik dan ke kaleng warna Kuning untuk sampah unorganik. (2) membawa sampah dari kelas masing-masing ke tempat pengumpulan akhir di sekolah. (3) memisahkan sampah bekas gelas minuman: sampah untuk bahan praktik mata pelajaran keterampilan (KTK) dan sampah untuk  dijual; (4) menimbang sampah unorganik-khusus botol/gelas plastik dari air mineral, mountea, cola dll- lalu dijual ke pedagang pengumpul sampah pada setiap hari Sabtu; (5) mengelola keuangan hasil dari penjualan sampah; (6) memfasilitasi teman-temannya untuk membuat pupuk dari limbah organik.
Sejak melaksanakan program itu tampak sekali perubahan pada sikap dan prilaku siswa demikian pula perubahan pada lingkungan sekolah. Darmiati, yang juga  Mnajemen Berbasis Sekolah (MBS) program USAID PRIORITAS itu memaparkan kalau siswanya saat ini sangat peduli akan kebersihan. Mereka lebih disiplin, lebih peduli, dan bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Mereka jujur mengelola uang hasil penjualan sampah mereka. Setiap minggu mereka menjual rata-rata 15-18 kg limbah gelas/botol minuman. Setiap kilogram sampah mereka jual dengan harga Rp. 2.000.  Hasil penjualan itu dimasukkan ke kas kelas Rp. 1.500 dan ke kas OSIS Rp. 500. Uang kas itu dialokasikan untuk pemeliharaan kebersihan dan keindahan kelas serta untuk biaya kegiatan OSIS. Para siswa menjadi lebih terampil dan kreatif membuat kerajinan tangan dari limbah organik, seperti pot bunga, tirai jendela, dll. Selain itu, juga mereka terampil membuat pupuk organik yang dipakai untuk merawat tanaman dan bunga di halaman sekolah.
Pendapatan Asli Sekolah
“Kami mengelola dua kantin sekolah yakni, Kantin Kejujuran dan Kantin Sehat dan Bersih.  Upaya menumbuhkan perilaku hidup sehat dalam lingkungan sekolah yang bersih tetap menjadi motivasi kami,” papar Darmiati. Kantin yang disebut terakhir itu dikelola sebagai salah satu fund rising (sumber pendanaan) sekolah. Tujuannya utamanya adalah: (1) menyediakan makanan, kue jajanan dan minuman yang higenis tanpa bahan pengawet, pemanis, dan pewarna berbahaya; (2) menciptakan sumber pendapatan asli sekolah dengan pendekatan pemberdayaan sekolah dan orang tua siswa. Sekolah menyediakan bahan dan orang tua siswa yang mengolahnya jadi makanan siap dikonsumsi.
Dra. Nurlina, guru dan selaku manager kantin, mengaku menjual makanan dan minuman yang  variatif kepada lebih kurang 39 orang guru dan 700 siswa setiap hari. Harga per porsi makanan juga sangat terjangkau oleh siswa, mulai dari harga Rp. 3.500 hingga Rp. 10.000, tergantung lauk pauk yang dipilih.
Kantin yang didirikan pada tahun 2009 itu benar-benar menjadi sumber pendapatan asli sekolah. “Setiap tahun kami membukukan keuntungan bersih sebanyak Rp.25.000.000. Namun, yang sangat penting adalah  transparansi dan akuntabilitas pengelolaannya,” kata Darmiati. Menurutnya, keuntungan yang diperoleh itu dialokasikan untuk membiayai empat kegiatan yakni: kegiatan penataan taman sekolah, kebersihan lingkungan sekolah, kegiatan kesiswaan, dan kegiatan peningkatan kualitas guru. Kegiatan peningkatan kualitas guru meliputi penyediaan konsumsi guru pada kegiatan Lesson Study di sekolah, kegiatan MGMP, maupun kegiatan lainnya. Sementara itu, alokasi untuk kegiatan kesiswaan meliputi pramuka dan pengembangan diri siswa. Pendapatan asli sekolah baik hasil dari Kantin Sehat maupun hasil dari Bank Sampah itu telah memberi sumbangsih nyata terhadap kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah.
“Melalui kedua program itu, Bank Sampah dan Kantin Sehat Sekolah, kami  memotivasi anak-anak kami untuk lebih peduli pada lingkungan dan kebersihan sekolah. Hasilnya, Alhamdulillah kami meraih penghargaan Adiwiyata, Juara I sekolah peduli lingkungan tingkat Kabupaten Enrekang,” ujar Darmiati, kepala sekolah inisiator pembelajaran  sistem moving class di sekolahnya sejak bermitra dengan DBE-USAID.